TUGAS PENGANTAR BISNIS minggu 7

TUGAS MINGGU 7 :

  1. Buatlah dengan suatu contoh kasus tentang proses produksi (input proses output) sebutkan jenis barangnya untuk pakaian, makanan, minuman, sepatu !

 

 

v  Pengertian Proses Produksi

Kegiatan utama yang bersangkutan dengan manajemen produksi adalah proses produksi. Proses produksi adalah metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber antara lain tenaga kerja, bahan-bahan, dana dan sumberdaya lain yang dibutuhkan.

Produksi merupakan suatu sistem dan di dalamnya terkandung tiga unsur, yaitu input, proses, dan output. Input dalam proses produksi terdiri atas bahan baku/ bahan mentah, energi yang digunakan dan informasi yang diperlukan. Proses merupakan kegiatan yang mengolah bahan, energi dan informasi perubahan sehingga menjadi barang jadi. Output merupakan barang jadi sebagai hasil yang dikehendaki.

 

Contoh 1 :

Proses produksi emping melinjo

  1. Kualitas Emping Melinjo

Pembuatan emping pada dasarnya adalah proses pemipihan biji melinjo tua. Hasil dari proses pemipihan ini ada dua macam, yaitu emping tebal dan emping tipis. Emping tebal dihasilkan dengan memukul melinjo tanpa cangkang 1-2 kali. Warna kuning agak gelap dengan tingkat ketebalan dan kekeringan antara emping yang satu berbeda, sehingga sebelum digoreng harus dilakukan penjemuran terlebih dahulu. Namun terkadang tidak mengembang sempurna saat digoreng. Sedang emping tipis diperoleh dengan memukul melinjo tanpa cangkang beberapa kali hingga ketebalan tertentu, biasanya antara 0,5-1,5 mm. Warna kekuningan agak bening dengan tingkat ketebalan dan kekeringan yang seragam. Jika digoreng akan mengembang dengan baik.

  1. Peralatan yang Digunakan dalam Pembuatan Emping Meninjo

–          Batu landasan atau yang biasa disebut umpak

Umpak digunakan sebagai tempat/alas untuk memipihkan biji melinjo. Umpak biasanya memiliki permukaan yang rata dan licin serta terbuat dari kayu seperti kayu mahoni dan kayu sawo, tetapi ada juga umpak yang terbuat dari batu.. Umur ekonomis umpak biasanya berkisar antara 7-8 tahun.

–      Palu/martil.
Martil digunakan untuk memecahkan cangkang/kulit keras serta memipihkan biji melinjo yang sudah disangrai. Martil tersebut terbuat dari besi baja. Ukuran berat martil bermacam-macam, mulai dari 1 kg, 1,5 kg, dan 2 kg bahkan ada yang sampai 3 kg.

–       Sosok/kape.

Serok atau yang biasa disebut kape ini terbuat dari seng. Untuk memindahkan biji melinjo yang sudah dipipihkan di atas umpak ke anyaman bambu/rigen, maka digunakan serok/kape.

–        Wajan

Wajan digunakan untuk menyangrai biji melinjo. Wajan tersebut terbuat dari tanah liat.

–        Serok

Serok yang digunakan untuk mengaduk-aduk dan mengangkat biji melinjo yang disangrai di wajan biasanya terbuat dari stainless steel atau tempurung kelapa agar tidak karatan. Serok memiliki bagian bawah yang berlubang-lubang.

–        Anyaman bambu (rigen)

Anyaman bambu/rigen yang digunakan untuk menjemur emping yang telah dipipihkan
biasanya berukuran 70cm x 80cm dan 60cm x 120cm

–        Tungku

Tungku yang digunakan sebagai pemanas untuk menyangrai biji melinjo terbuat dari batu bata dengan P x L x T = 20 x 25 x15 cm serta mempunyai umur ekonomis > 25 tahun.

–        Mesin pengepres kemasan

Mesin pengepres kemasan ada beberapa jenis, dari yang sederhana sampai yang modern untuk mengemas secara masal.

  1. Proses Pembuatan Emping Melinjo

            Pembuataatan emping melinjo memerlukan kesabaran untuk memperoleh hasil yang berkualitas. Tenaga kerja produksi, yang sering disebut pengrajin, umumnya adalah perempuan, yang biasanya berumur paruh baya (ibu-ibu). Tidak ada kualifikasi khusus yang diperlukan dalam industri emping. Keahlian membuat emping biasanya didapatkan dari turun-temurun. Bagi pengrajin emping, pekerjaan membuat emping merupakan pekerjaan sampingan dari pekerjaan utamanya yaitu bertani. Untuk menghasilkan emping yang berkualitas baik diperlukan bahan baku yang berkualitas. Biji melinjo yang berkualitas baik adalah biji melinjo yang sudah tua, yang secara fisik dapat diketahui dari kulit luar yang berwarna merah dan relatif segar (tidak disimpan terlalu lama).

  1. Buah melinjo di bersihkan dari daun dan buah yang sudah matang Tahap pertama dalam pembuatan emping yaitu pengupasan kulit luar biji melinjo. Kulit luar biji melinjo dikupas dengan menggunakan pisau. Kulit luar biji melinjo ini dapat digunakan untuk sayuran.

Pembersihan Melinjo

  1. Disangrai dengan pasir dan di aduk aduk sampai warna kulit luarnya menjadi kecoklatan. Biji melinjo yang sudah dikupas kulit luarnya dan sudah dikeringkan selama beberapa waktu seperti yang telah disebutkan di atas, kemudian disangrai. Prosesnya yaitu: pertama tama, wajan yang telah diisi pasir dipanaskan di atas tungku hingga panas pasirnya merata. Jika pasirnya sudah panas, biji melinjo dimasukkan dan diaduk-aduk bersama pasir hingga panasnya merata. Agar menghasilkan emping yang berkualitas bagus (rasanya gurih dan warna empingnya bening) maka selama proses penyangraian, waktunya tidak boleh terlalu cepat ataupun terlalu lama dihasilkan akan berwarna putih keruh. Waktu yang ideal untuk proses penyangraian ini biasanya ± 2 menit.

Proses Penyangraian

  1. Setelah warna kecoklatan lalu di pukul dengan batu atau alu hingga kulit yang keras terpecah biji melinjo yang telah bersih di pukul pukul hingga tipis. Emping yang sudah ditata di atas rigen kemudian dikeringkan. Proses pengeringan dilakukan dengan bantuan sinar matahari. Biji melinjo yang sudah terkelupas cangkangnya langsung dipipihkan dengan cara menggetok/memukul biji melinjo tersebut hingga rata dengan menggunakan martil baja sebanyak 2-3 kali getok. Emping yang bagus adalah emping yang permukaannya tipis dan tidak cepat. Jadi semakin tipis emping tersebut, maka akan semakin bagus. Apabila ingin membuat emping ukuran yang lebih besar, maka caranya dengan meletakkan secara berdekatan biji melinjo pertama dengan biji melinjo berikutnya. Semakin besar ukuran yang diharapkan, makin banyak biji melinjo yang dibutuhkan.

Pemukulan Biji Melinjo

  1. Proses selanjutnya adalah emping di jemur  sehingga kandungan air dalam emping berkurang. Emping yang telah diangkat dari umpak, kemudian diletakkan di atas anyaman bambu/rigen. Peletakan emping tersebut tidak boleh sembarangan, harus diatur sedemikian rupa agar tidak saling bertumpuk (tidak tumpang tindih). Karena apabila saling bertumpukan, maka akan sulit untuk mengangkatnya (apabila diangkat, empingnya akan hancur).

Penjemuran Emping

  1. Tahap Sortasi Penyotiran bertujuan untuk memisahkan emping sesuai dengan kualitas. Kualitas fisik dinilai dari keutuhan bentuk, kejernihan, kepipihan dan bau. Emping yang telah benar-benar kering, kemudian disortir dahulu. Penyortiran emping tersebut dilakukan dengan cara:
  • Memisahkan emping yang utuh dari yang pecah
  • Memisahkan emping yang ada bintik-bintik hitamnya.
  • Memisahkan emping yang tebal dari yang tipis
  • Memisahkan emping yang berasal dari biji melinjo yang masih muda.
  1. Pengemasan
    Setelah emping-emping tersebut disortir berdasarkan kualitas lalau dilakukan pengemasan. Pengemasan dilakukan dengan menggunakan kemasan plastik dan atau karton, kemasan plastik biasanya sudah diberi label untuk yang akan dijual satuan. Emping dimasukkan ke kantong plastik dan ditimbang berat bersihnya (netto). Setelah itu barulah dipress dengan menggunakan mesin press. Ukuran kemasan kami mengunakan 0,5 kg dan 1 kg. Sementara untuk kemasan plasti yang dijual curah, biasanya dalam ukuran 5kg, 10 kg atau 15 kg. Emping-emping yang sudah dikemas tersebut sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dan kering. Kemasan karton digunakan untuk pengiriman produk ke tempat yang relatif jauh dan dalam jumlah besar/curah. Pemakaian kemasan karton bertujuan agar produk sampai di tempat tujuan dalam kondisi utuh dan baik.

Emping Siap Produksi

 

Contoh 2 :

Proses produksi sepatu

  1. Cutting Process

Cutting process adalah proses pemotongan bahan baku sebelum dibentuk menjadiupper sepatu. Bahan baku yang berupa kain atau pun kulit (leather ) dipotongmembentuk pola-pola yang telah ditentukan sebelumnya. Peralatan yang diperlukandalam proses ini menggunakan mesin potong (cutting machine ) dan alat potong yang disebut dengan cutting dies yang bentuk dan ukurannya telah dibuat sesuai denganpola-pola potongan yang akan dikerjakan.

 

  1. Stitching/Sewing Process

Pada proses ini pola-pola bahan baku yang telah dipotong dicutting process kemudian dijahit yang kemudian dibentuk  menjadi upper sepatu. Dalam proses penjahitan ini sangat banyak membutuhkan waktu dalam pengerjaannya. Hal ini dikarenakan tingginya tingkat kesulitan dalam menjahit dan juga butuh ketelitian yang sangat tinggi. Potonganpola dijahit satu persatu sehingga membentuk upper sepatu yang selanjutnya disatukandi proses perakitan.

 

  1. Stockfit Process

Proses ini adalah merupakan proses kerja yang menggabungkan bagian-bagian dari bottom sepatu, yaitu antara midsole dan outsole sampai terbentuk menjadi bottom  sepatu. Midsole yang berbahan dasar phylon akan digabungkan dengan outsole yang berbahan dasar karet (rubbersole ) dengan cara mengelem.

 

  1. Assembling Process

Pada bagian  inilah perakitan sepatu dikerjakan. Bagian-bagian sepatu yang masih berupa upper  dan bottom  digabungkan hingga menjadi bentuk sepatu. Bagian upper yang diproduksi dari divisi stitching process sebelumnya dan bagian bottom yang diproduksi di divisi stockfit dirakit dalam proses ini sampai membentuk sepasang sepatu.

 

  1. Finishing

Divisi ini adalah ujung akhir dari semua proses produksi yang dikerjakan. Sepatu yangsudah berhasil diproduksi dan telah melewati pemeriksaan quality kemudian akan di-packing ke dalam dus karton sepatu yang kemudian disimpan di gudang (warehouse) yang pada akhirnya siap dikirimkan untuk dipasarkan.

 

Contoh 3 :

Proses produksi teh

Produksi teh meliputi beberapa tahap :

      Pelayuan

Tujuan pelayuan adalah untuk mengurangi kadar air daun teh hingga 70% (persentase ini bervariasi dari satu wilayah dengan yang lain).

Daun teh ditempatkan di atas loyang logam (wire mesh) dalam ruangan (semacam oven). Kemudian udara dialirkan untuk mengeringkannya secara keseluruhan.

Proses ini memakan waktu 12 hingga 17 jam. Pada akhir pemrosesan daun teh menjadi layu dan lunak sehingga mudah untuk dipilin.

 

      Penggilingan

Daun teh ditempatkan pada mesin penggiling, yang berputar secara horisontal terhadap meja penggilingan. Proses ini membentuk daun teh menyerupai pilinan kawat. Selama proses penggilingan daun teh juga menjadi pecah/rusak, yang mengawali proses ketiga.

 

 

Sebagai pengganti penggilingan yang lembut dan lebih tradisional, ada dua metode lain yang digunakan, terutama dalam produksi teh hitam agar menjadi lebih halus, seperti kategori daun hancur (fanning ) dan partikel kecil (dusting ). Kategori ini biasanya diperuntukkan untuk produksi teh celup.

  • Metode Produksi CTC :

CTC adalah singkatan dari (crushing, tearing and curling ) penghancuran, penyobekan, dan penggulungan. Daun yang telah dilayukan seringkali dipotong hingga berukuran seragam dengan menggunakan mesin. Selanjutnya daun ditempatkan dalam mesin CTC dimana mereka dihancurkan, dikoyak, dan digulung dengan proses tunggal oleh penggulung logam. Ekstrak air sarinya ditampung dan ditambahkan kembali ke daun.

Daun yang telah hancur kemudian dioksidasi, dikeringkan dan disortir. Metode CTC terutama digunakan di wilayah India.

  • Metode LTP :

Metode ketiga dalam produksi teh hitam adalah metode LTP, diberi nama sesuai dengan penemu mesin, Lawrie Tea Processor. Pada metode ini, daun yang telah dilayukan seringkali digolongkan berdasarkan mutunya sebelum diproses di mesin LTP. Di sinilah proses perobekan daun yang sebenarnya dilakukan dengan menggunakan mata pisau yang berputar dengan kecepatan tinggi. Selanjutnya diikuti dengan proses oksidasi biasa, pengeringan dan proses penyortiran.

 

      Oksidasi (fermentasi)

Ketika proses penggilingan telah sempurna, daun teh ditempatkan dalam bak-bak atau diletakkan diatas meja, sehingga enzim-enzim yang ada di dalam daun teh bersentuhan dengan udara dan mulai teroksidasi. Hal inilah yang menghasilkan bau, warna, dan mutu dari teh.

Pada proses ini daun teh berubah warna dari hijau, menjadi coklat muda, lalu coklat tua, dan perubahan warna daun ini terjadi pada temperatur 26 derajat.

Tahap ini merupakan tahap kritis dalam menentukan rasa teh, jika oksidasi dibiarkan terlalu lama, rasa akan berubah menjadi seperti busuk. Proses oksidasi memakan waktu kurang lebih satu setengah sampai 2 jam.

                                                     

      Pengeringan

Untuk menghentikan proses oksidasi, daun teh dilewatkan melalui pengering udara panas. Proses ini mengurangi total kadar air hingga kira-kira 3% dan menghentikan enzim. Oksidasi dihentikan pada proses ini, dan sekarang daun teh yang sudah kering siap untuk disortir berdasarkan penggolongan kelasnya sebelum pengemasan. Untuk penggolongan kelas, lihat file

 

      Pengemasan

Daun teh pada umumnya dikemas dalam kotak kayu yang besar dan siap untuk diekspor. Untuk selanjutnya dapat dikemas dalam kemasan lebih kecil, teh celup, dan lain-lain.

 

 

Contoh 4 :

Pembuatan kaos polos

Untuk membuat kaos, t-shirt, dan kaos polo, atau polo shirt, dimulai dari bahan baku yang paling dasar yaitu kapas. Dari kapas proses selanjutnya untuk membuat kain kaos disebut proses pemintalan atau didalam industri tekstil biasa disebut dengan proses spinning. Proses spinning yakni proses mengolah kapas atau polyester menjadi benang.

Setelah proses pemintalan atau spinning, maka hasilnya adalah benang. Benang hasil pemintalan ini akan masuk ke proses berikutnya yang disebut soft winder. Soft winder adalah proses penggulungan benang hasil dari pemintalan.

Benang yang telah digulung melalui proses soft winder, akan masuk ke proses pencelupan benang. Tujuannya adalah untuk memberi warna pada benang sebelum ditenun menjadi kain. Jadi warna dari kain itu berasal dari proses pencelupan benang ini. Setelah proses pencelupan benang selesai kemudian benang dikeringkan.

Proses selanjutnya setelah pencelupan atau pewarnaan pada benang adalah proses weaving.Weaving biasa disebut juga proses penenunan, yaitu proses mengolah benang menjadi kain. Sebelum masuk ke proses penenunan atau weaving, benang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Proses ini, mempersiapkan benang hingga terbentuk anyaman benang yang siap masuk ke mesin tenun. Setelah itu baru masuk ke proses dalam proses weaving atau penenunan.

Setelah proses penenunan selesai maka hasilnya adalah lembaran-lembaran kain. Kain-kain dari hasil mesin tenun ini kemudian masuk ke proses pemeriksaan atau disebut Shiage. Di proses ini kain akan dicek dan ditentukan gradenya. Bila dari pemeriksaan ditemukan kecacatan maka kain dikirim ke bagian perbaikan. Di proses ini juga dilakukan proses klasifikasi kain sesuai dengan jenisnya. Untuk jenis t-shirt biasanya hasilnya berupa bahan cotton carded, cotton combed, atau Teteron Cotton. Sementara untuk polo shirt, biasanya terbuat dari jenis cotton pique yang berpori-pori lebih besar.

Lulus dari proses pemeriksaan atau Shiage. Kain akan masuk ke proses pemolesan terhadap warna, penampilan dan pegangan (handling) disebut dengan proses Dyeing. Proses ini merupakan proses terakhir dari proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku kapas atau polyester hingga menjadi kain.

Sebelum kain dikirim ke pasaran ada proses terakhir yaitu proses penggulungan dan pengepakan kain sesuai dengan pesanan dari pelanggan. Sampai tahap ini selesailah proses produksi kain di pabrik.

Kemudian kain akan dipasarkan ke pelanggan-pelanggan atau distributor dan pusat-pusat grosir kain. Dari pusat-pusat grosir inilah bisanya industri garmen mendapatkan supply bahan baku kain. Industri-industri garmen ini meliputi industri konveksi, sablon atau percetakan hingga ke level industri rumah tangga.

Sampai di level konveksi atau industri garment, kain-kain tersebut dipotong sesuai pola kaos atau polo shirt. Setelah dipotong kain kaos  kemudian dijahit, dan dikemas sampai menjadi produk akhir seperti t-shirt, atau polo shirt.

  1. Jelaskan perbedaan manajemen produksi dan produksi ceritakan dengan suatu ilustrasi !

MANAJEMEN PRODUKSI

      Pengertian Manajemen Produksi

Manajemen Produksi yaitu kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan /koordinasi kegiatan orang lain.

> Organisasi yaitu alat untuk mencapai tujuan dalam manajemen.

> Manajemen Produksi yaitu kegiatan untuk mengatur dan mengkoordinasikan   penggunaan sumber-sumber daya.

      Perkembangan Manajemen Produksi

Manajemen produksi berkembang pesat karena adanya factor :

  • Adanya pembagian kerja (division of labour) dan spesialisasi

Agar produksi efektif dan efisien, produsen hendaknya menggunakan metode ilmiah dan azas-azas manajemen. Pembagian kerja memungkinkan dicapainya tingkat dan kualitas produksi yang lebih baik bila disertai dengan pengolahan yang baik.dan akan mengurangi biaya produksi sehingga dapat tercapainya tingkat produksi yang lebih tinggi.

  • Revolusi Industri

Revolusi Industri merupakan suatu peristiwa penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin. Revolusi itu merupakan perubahan dan pembaharuan radikal dan cepat dibidang perdagangan, industri, dan tekhnik di Eropa.

Perkembangan revolusi industri terlihat pada :

1.       Bertambahnya penggunaan mesin

2.       Efisiensi produksi batu bara, besi, dan baja,

3. Pembangunan jalan kereta api,alat transportasi, dan komunikasi.
       4.        Meluasnya system perbankan dan perkreditan.

Industialisasi ini meningkatkan pengolahan hasil produksi, sehingga membutuhkan kegiatan pemasaran.
       –      Perkembangan alat dan tekhnologi yang mencakup penggunaan computer

Sehingga pada banyak hal manajer produsi mengintegrasikan tekhnologi canggih kedalam bisnisnya.
        –      Perkembangan ilmu dan metode kerja yang mencakup metode ilmiah, hubungan antar manusia, dan model keputusan.

v  PRODUKSI

      Pengertian produksi

Produksi adalah:

– suatu kegiatan atau proses yang mengubah masukan (input) menjadi keluaran (output).
– kegiatan yang menghasilkan barang, baik barang jadi, setengah jadi, barang industri, suku cadang maupun komponen-komponen penunjang.

– kegiatan yang berhubungan dengan usaha penciptaan dan penambahan kegunaan suatu barang atau jasa.

> Produksi diartikan sebagai suatu kegiatan yang mentransformasikan masukan(input) menjadi keluaran(output).

    Fungsi Serta Sistem Produksi Dan Operasi

Fungsi Produksi dan Operasi

Berikut ini ada 4 fungsi terpenting dalam poduksi dan operasi

  1. Proses Pengolahan

2. Jasa-jasa penunjang

      3. Perencanaan

      4. Pengendalian /pengawasan

Jenis produksi dapat diklasifikasikan menurut perbedaan dalam proses-proses operasinya. Barang-barang produk berdasarkan apakah proses operasinya mengkombinasikan sumber daya atau dipecah menjadi beberapa bagian komponen

> Proses Pabrikasi Barang : Proses Analitis vs Sintetis

Seluruh proses pabrikan dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat analitis atau sintetis dari proses transformasi.
• Proses analitis: proses produksi yang menguraikan sumber-sumber daya menjadi komponen untuk menciptakan produk-produk jadi.

• Produksi sintetis : proses produksi yang mengkombinasikan bahan-bahan mentah untuk memproduksi suatu barang jadi.

> Proses jasa : Tingkat kontak dengan pelanggan

Satu cara mengklasifikasikan jasa adalah menanyakan apakah suatu jasa tertentu dapat diberikan tanpa pelanggan menjadi bagian dalam sistem produksi.
• Proses kontak tinggi: Tingkat kontak antara jasa dengan konsumen dimana konsumen menerima jasa sebagai bagian dari sistem. Misalnya jasa transportasi.
• Proses kontak rendah: tingkat kontak antara jasa dengan konsumen dimana konsumen tidak perlu menjadi bagian dari sistem dalam menerima jasa. Misalnya penyetoran giro di bank, nasabah tidak mengikuti proses perbankannya.

Proses Produksi dapat ditinjaui dari dua segi yaitu:

1.Kelangsungan Hidup

a. Produksi terus-menerus (Continuous Production)

Produksi terus menerus dilakukan sebagai proses untuk mengubah bentuk barang-barang. Dalam proses produksi ini, walaupun terjadi perubahan model, susunan dan fungsi alat-alat mesin yang dipakai tidak berubah. Misalnya penggergajian kayu mengubah balok menjadi papan, karet menjadi ban atau pun proses perakitan mobil, walaupun terjadi perubahan bentuk tetapi tidak mengubah susunan dan fungsi alat-alat mesin. Proses produksi ini menghasilkan produk yang standar.

b. Produksi yang terputus-putus (Intermitten Production)

Proses produksi tidak terus menerus atau operasi seringkali terhenti guna mengubah alat-alat, pengaturan kembali alat-alat dan penyesuaian yang terus menerus diadakan sesuai dengan tuntutan produk yang akan dihasilkan. Proses produksi ini dilakukan berdasarkan pesanan yang sesuai dengan keperluan pemesan.

2.  Teknik
a. Proses ekstraktif : suatu proses pengambilan langsung dari alam seperti kayu, perikanan
b. Analitis : Proses memisahkan bahan-bahan seperti minyak mentah menjadi minyak bersih.
c. Proses Pengubahan: Proses perubahan bentuk seperti alat-alat rumah tangga.
d. Proses Sintetis: Proses mencampur dengan unsur-unsur lain seperti bahan-bahan kimia

  1. Sebutkan pengambilan keputusan dalam manajemen produksi !

v  Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen Produksi

Dilihat dari kondisi keputusan yang harus diambil, dibedakan menjadi:
1.Pengambilan keputusan atas peristiwa yang pasti
2. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang mengandung resiko
3. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang tidak pasti
4. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang timbul karena pertentangan dengan keadaan lain.

Bidang Produksi Mempunyai 5 Tanggung Jawab keputusan Utama, yaitu :
*   Proses                     *   Tenaga Kerja                      *   Mutu/Kualitas
*   Kapasitas                *   Persediaan                          *   Ruang Lingkup Manajemen Produksi

Ruang lingkup manajemen produksi:

  1. Perencanaan system produksi
  2. Perencanaan operasi dan system pengendalian

Pemilihan Lokasi Pabrik Penentuan 

atau pemilihan lokasi pabrik adalah penting, karena mempengaruhi kedudukan perusahaan dalam persaingan, dan kelangsungan hidupnya. Penentuan lokasi pabrik juga harus mempertimbangkan kemungkinan ekspansi.

Tujuan Perencanaan Lokasi Pabrik
            Tujuannya adalah agar perusahaan dapat beroperasi dengan lancar, efektif dan efisien. Penentuan lokasi memperhatikan faktor biaya produksi & biaya distribusi barang yang dihasilkan & faktor lokasi sangat penting untuk menurunkan biaya operasi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lokasi Pabrik :
Faktor Utama :                                                                        Faktor Sekunder :
>Lingkungan masyarakat                                                        > Harga tanah
> Kedekatan dengan pasar                                                     > Dominasi masyarakat
> Tenaga kerja                                                             > Peraturan tenaga kerja
> Kedekatan dengan bahan mentah dari pemasok                 > Rencana tata ruang
> Fasilitas dan biaya transportasi                                            > Tingkat pajak
> Sumberdaya alam lainnya                                                    > Keamanan ; dll

Tahap Pemlihan Lokasi Pabrik
 * Melihat kemungkinan beberapa alternatif daerah yang akan dipilih.
 * Melihat pengalaman orang lain dan pengalaman sendiri untuk menentukan lokasi pabrik.
 * Mempertimbangkan dan menilai alternatif pilihan yang menguntungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s