Analisis Laporan Keuangan Sebagai Evaluasi Atas Kinerja Perusahaan Pada PT.Unilever Indonesia

Analisis Laporan Keuangan Sebagai Evaluasi Atas Kinerja Perusahaan Pada PT.Unilever Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Saat ini perkembangan perekonomian di Indonesia masih dalam keadaan krisis moneter yang mana telah menyebabkan perusahaan kecil mengalami kebangkrutan dan perusahaan besar mengalami kemunduran. Secara tidak langsung dengan keadaan tersebut menuntut setiap perusahaan untuk lebih efisien dalam mempergunakan keuangan perusahaan agar dapat bertahan dalam keadaan krisis seperti ini, bila tidak maka dapat mengalami kebangkrutan.
Masalah keuangan merupakan hal yang sangat vital bagi dunia bisnis pada umumnya. Dalam era globalisasi ini suatu perusahaan yang dapat mengelola keuangannya dengan baik akan mendapatkan kepercayaan dari para investor dan bank-bank yang ingin bekerjasama dengan perusahaan tersebut, sehingga perusahaan mengalami peningkatan kegiatan dari usaha yang dilakukannya.
Perusahaan yang terorganisir dengan baik selalu membuat laporan keuangan seperti neraca rugi laba, laporan itu dibuat guna dianalisis, dimana hasil analisis laporan keuangan itu pada hakekatnya untuk mempelajari keadaan keuangan serta korelasinya terhadap kegiatan operasional perusahaan. Dan untuk memberi gambaran mengenai baik/buruknya keadaan keuangan perusahaan tersebut maka digunakanlah teori-teori analisis yaitu analisis berupa rasio yang menggambarkan kondisi keuangan. Dengan menggunakan rasio ini dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat likuiditas dan tingkat solvabilitas dari suatu perusahaan.
Berdasarkan uraian maka terlihatlah dengan jelas bahwa penggambaran kondisi keuangan perusahaan sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan perumusan kebijaksanaan yang dilakukan pada suatu perusahaan tersebut. Oleh karena itu, penulis sangat tertarik untuk mengangkat ke dalam penulisan ilmiah ini dengan judul “Analisis Laporan Keuangan Sebagai Evaluasi Atas Kinerja Perusahaan Pada PT.Unilever Indonesia”.

1.2 Rumusan Masalah
Penulis merumuskan masalah tersebut seperti dibawah ini :
1. Bagian tingkat Likuiditas perusahaan dalam melunasi hutang pendek adalah ?
2. Bagian tingkat solvabilitas perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang adalah ?
3. Bagian tingkat Rentabilitas perusahaan pada tahun 2008-2010 adalah ?

1.3 Batasan Masalah
Dalam penulisan ilmiah ini, penulis juga membatasi hal-hal berikut ini
1. Kinerja keuangan diukur dengan rasio Likuiditas, Solvabilitas, dan Rentabilitas
2. Tahun yang digunakan adalah tahun 2008-2010

1.4 Tujuan Penelitian
1. Untuk dapat mengetahui tingkat Likuiditas perusahaan yaitu melihat kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya.
2. Untuk mengetahui tingkat Solvabilitas PT Univeler Indonesia yaitu melihat kemampuan perusahaan membayar kewajibannya jangka pendek maupun jangka panjang.
3. Untuk dapat mengetahui tingkat Rentabilitas perusahaan yaitu melihat perolehan laba yang diperoleh di tahun 2008-2009-2010
1.5 Metode Peneliatian

1.5.1 Objek Penelitian
Objek yang akan diteliti dalam penelitian ilmiah ini adalah PT Univeler Indonesia yang beralamat Jln.jend.Gatot subroto kav 15 Jakarta (12930),Indonesia.

1.5.2 Data / Variabel
Penulis melakukan penelitian ilmiah dengan menggunakan data-data primer yang ada pada perusahaan tersebut, yang berupa laporan keuangan perusahaan periode tahun 2008-2010.

1.5.3 Metode Pengumpulan Data / Variabel
1. Studi Pustaka Penulis membaca dan mempelajari buku-buku serta sumber-sumber yang berkaitan dengan topik yang akan dibahas dalam penulisan ilmiah ini sebagai penunjang data.
2. Studi lapangan (Observasi)
Penulis melakukan pengumpulan data melalui riset langsung ke BEJ yang menyediakan data yang diperlukan oleh penulis sebagai bahan penulisan ilmiah.

1.5.4 Analisis Yang Digunakan
Analisis yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini adalah:
1. Analisis Deskriptif, yaitu melalui penggunaan tabel dan gambar serta grafik.
2. Analisis Kuantitatif, yaitu dengan menggunakan perhitungan analisis rasio keuangan yang terdapat dalam matakuliah Manajemen Keuangan.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan sesuatu yang sangat perlu bagi kepentingan perkembangan perusahaan, karena dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Laporan keuangan juga digunakan sebagai dasar untuk menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan, dimana hasil analisis tersebut digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengambil suatu keputusan. Selain itu laporan keuangan juga digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktifitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktifitas perusahaan tersebut. Jadi dengan laporan keuangan akan dapat menilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, struktur modal usaha, keefektifan penggunaan aktiva, serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan keadaan finansial perusahaan.
Menurut Drs. S. Munawir (1995:5) menyatakan laporan keuangan adalah ”Dua daftar yang disusun akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi-laba”.
Sedangkan definisi laporan keuangan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) mengatakan bahwa ”Neraca dan perhitungan rugi-laba serta segala keterangan-keterangan yang dibuat dalam lampirannya antara lain laporan sumber dan penggunaan dana”.
Serta menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland (1992:20), adalah ”laporan keuangan terdiri dari neraca dan perhitungan rugi laba, berisi informasi tentang prestasi perusahaan di masa lampau dan dapat dipakai sebagai dasar untuk penetapan kebijakan perusahaan di masa yang akan datang”.
Dari ketiga definisi di atas penulis menarik kesimpulan bahwa neraca dan laporan rugi-laba mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyusunan atau pembuatan laporan keuangan suatu perusahaan.
Dengan demikian laporan keuangan yang dibuat dengan maksud dan tujuan untuk memberikan gambaran atau kondisi keuangan perusahaan. Banyak pihak yang memerlukan laporan keuangan dan dalam hal ini dapat dilihat dari analisis pada laporan keuangan tersebut yaitu pada neraca dan laporan rugi-laba. Dengan laporan keuangan akan dapat diketahui tentang hasil dan perkembangan usaha suatu perusahaan.
Laporan keuangan juga sangat berguna bagi pihak-pihak tertentu yang berhubungan langsung atau mempunyai kepentingan terhadap perusahaan bersangkutan. Pihak-pihak tersebut antara lain :
1. Para pemilik perusahaan
Untuk perusahaan-perusahaan yang pimpinannya diserahkan pada orang lain, dengan adanya laporan keuangan, pemilik perusahaan akan dapat menilai sukses tidaknya seorang manajer, yang diberikan kepercayaan dalam memimpin dan mengelola perusahaan, yang biasanya diukur dengan laba yang diperoleh perusahaan. Sukses tidaknya manajer akan menentukan kontinuitas kepemimpinan manajer dan kontinuitas perusahaan. Dengan kata lain laporan keuangan yang diperlukan oleh pemilik perusahaan untuk menilai hasil-hasil yang telah dicapai, dan untuk menilai kemungkinan hasil-hasil yang akan dicapai dimasa yang akan datang, sehingga bisa menaksir keuntungan yang akan diterima dan perkembangan usaha perusahaan.
2. Manajer atau pemimpinan perusahaan
Laporan keuangan yang digunakan manajer untuk mengetahui posisi keuangan perusahaannya, juga digunakan dalam menyusun rencana yang lebih baik untuk periode yang baru, selain itu juga dapat memperbaiki sistem pengawasan dan menentukan kebijakan-kebijakan yang lebih baik. Laporan keuangan dapat digunakan manajer sebagai dasar :
a. Menyusun rencana yang akan datang
b. Untuk mengukur sistem pengendalian intern yang diterapkan sudah memadai atau belum. Jika belum memadai, disusun sistem pengendalian yang baru atau disempurnakan.
c. Untuk menentukan perlu atau tidaknya dengan adanya kebijaksanaan atau prosedur baru agar dapat dicapai hasil yang lebih baik dan meningkat.
3. Investor, kreditur, dan bankers
Dengan adanya laporan keuangan sangat membantu para investor, kreditur, bankers dalam menanamkan modalnya. Mereka ini berkepentingan terhadap prospek keuntungan perusahaan di masa yang akan datang dan perkembangan perusahaan. Laporan keuangan dapat memberikan pertimbangan untuk pemberian atau penolakan kredit dari suatu lembaga keuangan.
4. Pemerintah
Pemerintah sangat berkepentingan dengan laporan keuangan untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan, juga sangat diperlukan oleh Biro Pusat Statistik, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja untuk dasar perencanaan pemerintah. Dengan melihat laporan keuangan, maka pemerintah akan mengetahui kemampuan perusahaan untuk memberikan upah dan jaminan sosial.
Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud memberi gambaran atau laporan kemajuan secara periodik yang dilakukan oleh pihak manajemen, dengan kata lain bersifat historis serta menyeluruh. Dengan sifat yang demikian maka laporan keuangan tidak dapat mencerminkan posisi keuangan dari suatu perusahaan dalam kondisi perekonomian yang paling akhir. Hal ini mungkin dapat diakibatkan oleh sesuatu yang tidak terdapat atau tercatat pada laporan keuangan atau pencatatan akuntansi.

2.2 Neraca
Neraca dibuat dengan maksud untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu, biasanya pada waktu dimana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada akhir tahun fiskal atau tahun kalender, sehingga neraca sering disebut dengan Balance Sheet. Setiap neraca mencerminkan posisi aktiva dan kewajiban perusahaan pad suatu saat tertentu, sedangkan perubahan neraca merupakan gambaran kegiatan yang dilakukan perusahaan.
Menurut Dr. Zaki Baridwan, MSc (1997:18), neraca itu terdiri dari tiga bagian utama, dimana setiap bagian memiliki elemen-elemen, yaitu :
1. Aktiva
Yang dimaksud dengan aktiva adalah sumber-sumber ekonomi perusahaan yang biasanya dinyatakan dalam satuan uang. Elemen-elemen aktiva dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Aktiva lancar
Aktiva lancar merupakan uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal). Yang termasuk dalam aktiva lancar yaitu :
– Kas
– Surat-surat berharga yang merupakan investasi jangka pendek
– Piutang dagang dan piutang wesel.
– Piutang pegawai
– Piutang angsuran dan piutang wesel angsuran
– Persediaan barang dagangan
– Biaya-biaya yang dibayar dimuka.
b. Investasi jangka panjang
Yang termasuk dalam elemen ini antara lain :
– Investasi jangka panjang dalam surat-surat berharga seperti saham, obligasi, dan wesel jangka panjang.
– Investasi dalam anak perusahaan, termasuk uang muka jangka panjang.
– Investasi dalam bentuk aktiva tetap berwujud, tetapi belum digunakan untuk usaha.
– Penyisihan dana untuk tujuan jangka panjang
– Cash surrender value dari polis asuransi.
c. Aktiva Tetap Berwujud
Aktiva tetap berwujud merupakan kekayaan yang dimiliki perusahaan yang fisiknya nampak. Yang termasuk dalam aktiva tetap yaitu :
– Tanah
– Bangunan
– Peralatan
– Mesin-mesin
– Perlengkapan
– Kendaraan
d. Aktiva Tetap Tidak Berwujud
Aktiva tetap tidak berwujud merupakan kekayaan perusahaan yang tidak tampak fisiknya, tetapi mempunyai nilai dan dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahana. Yang termasuk dalam aktiva tidak berwujud yaitu :
– Goodwill
– Hak paten
– Merk dagang
– Hak cipta
e. Aktiva lain-lain
Aktiva yang tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan aktiva yang disebut di atas maka dimasukkan ke dalam aktiva lain-lain.
2. Hutang
Hutang merupakan kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak-pihak lain yang belum terpenuhi, merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditur. Elemen-elemen hutang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Hutang lancar
Hutang lancar merupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilunasi dalam jangka waktu pendek atau tidak lebih dari satu tahun siklus operasi perusahaan. Yang termasuk dalam hutang lancar :
– Hutang dagang
– Hutang wesel
– Taksiran hutang pajak

– Hutang biaya
– Hutang lain-lain.
b. Hutang jangka panjang
Kewajiban-kewajiban yang harus dilunasi dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Penentuan jangka waktu ini diukur sejak pembuatan tanggal neraca. Yang termasuk dalam hutang jangka panjang, antara lain :
– Hutang obligasi
– Hutang hipotik.
c. Hutang-hutang lain
Hutang-hutang lain yang tidak dapat dilaporkan dalam golongan hutang di atas. Yang termasuk dalam hutang-hutang lain in antara lain :
– Piutang wesel didiskontokan
– Sengketa hukum, pajak, dan beban-beban lain yang belum pasti.
– Garansi-garansi yang diberikan.
3. Modal
Modal hakekatnya merupakan hak pemilik perusahaan atas kekayaan perusahaan. Yang termasuk dalam modal, antara lain :
– Modal saham
– Laba tidak dibagi
Merupakan laba tahun-tahun sebelumnya yang tidak dibagi sebagai deviden.
– Modal penilaian kembali
Merupakan selisih nilai buku lama dengan nilai buku yang baru.
– Modal sumbangan
– Modal lain-lain
Modal perusahaan yang tidak dapat dimasukkan dalam salah satu kelompok di atas.

2.3 Laporan Rugi Laba
Drs. S. Munawir mengemukakan (1995:26), laporan rugi-laba merupakan ”suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi-laba yang diperoleh suatu perusahaan selama periode tertentu”.
Tujuan dari penyusunan ini adalah untuk mengukur kemajuan perusahaan didalam menjalankan operasinya. Namun secara garis besarnya unsur-unsur laporan rugi-laba dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Hasil penjualan
Hasil penjualan merupakan jumah dari penjualan barang atau jasa untuk satu periode. Dapat disebut juga dengan penjualan kotor.
2. Harga pokok penjualan
Harga pokok penjualan merupakan hasil dari persediaan awal barang dengan ditambah dengan pembelian barang dagangan dan dikurangi persediaan akhir barang dagangan.
3. Laba kotor penjualan
Laba kotor penjualan dapat diukur dengan cara menggunakan harga pokok penjualan terhadap penjualan.
4. Biaya operasi perusahaan
Biaya operasi perusahaan pada umumnya terdiri dari :
a. Biaya penjualan
Biaya penjualan adalah biaya yang dibebankan sehubungan dengan penjualan barang. Yang termasuk dalam biaya penjualan, diantaranya :
– Biaya gaji pegawai
– Komisi penjualan
– Biaya advertising
– Penyusutan peralatan
– Biaya-biaya penjualan lainnya
b. Biaya administrasi dan umum
Biaya administrasi ini, antara lain :
– Gaji pegawai administrasi

– Perlengkapan kantor
– Biaya-biaya lain.
5. Laba bersih
Laba bersih adalah biaya operasi dikurangi dengan laba kotor.
6. Pendapatan atau biaya-biaya di luar operasi
Contohnya: biaya bunga, biaya sewa, dan deviden.

2.4 Keterbatasan Laporan Keuangan
Setiap laporan keuangan yang dibuat secara periodik pada dasarnya bersifat interim report (laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementara) dan bukan merupakan laporan final. Karena itu semua jumlah-jumlah atau hal-hal yang dilaporkan dalam laporan keuangan tidak menunjukkan nilai likuidasi atau realisasi dimana dalam interim report ini terdapat pendapat-pendapat pribadi yang telah dilakukan oleh akuntan atau manajemen
Laporan keuangan juga angka dalam rupiah yang kelihatannya bersifat pasti dan tepat, tetapi sebenarnya dasar penyusunannya dengan standar nilai yang mungkin berbeda atau berubah-ubah. Karena itu angka yang tercantum dalam laporan keuangan hanya merupakan nilai buku yang belum tentu sama dengan harga pasar sekarang maupun nilai gantinya.
Selain itu laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor seperti reputasi dan prestasi perusahaan yang dapat mempengaruhi posisi atau keadaan perusahaan karena faktor-faktor tersebut tidak dapat dinyatakan dengan satuan uang.

2.5 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan suatu alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi-informasi tentang posisi keuangan dan hasil-hasil yang dicapai oleh perusahaan selama periode akuntansi yang bersangkutan. Posisi keuangan diungkapkan dalam laporan neraca dan hasil-hasil yang dicapai oleh perusahaan, sedangkan modal diungkapkan dalam laporan rugi-laba dan laporan perubahan modal atau laba ditahan. Laporan-laporan keuangan tersebut harus disusun oleh setiap perusahaan pada tiap-tiap akhir periode. Dari hasil analisis laporan keuangan, maka dapat diketahui tentang kondisi finansial perusahaan, efisiensi, dan perkembangan perusahaan.

2.6 Kegunaan Analisis Laporan Keuangan
Bagi pihak yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan sangatlah perlu untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan, dan kondisi keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui dari laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan, yang terdiri dari neraca, laporan rugi-laba serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan mengadakan analisis terhadap laporan-laporan keuangan akan dapat mengetahui posisi keuangan, serta memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan perusahaan.

2.7 Pengertian Analisis Rasio Likuiditas
Likuiditas adalah ”tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang harus segera dipenuhi” (Miswanto, Eko Widodo, 1998:83). Dengan kata lain likuiditas menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang jangka pendek yang dimiliki. Suatu perusahaan dikatakan ”likuid” apabila memiliki cukup kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, begitu juga sebaliknya jika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya maka perusahaan dikatakan ”likuid”.
Sedangkan menurut Prof. Dr. Bambang Riyanto (1997:25), masalah likuiditas adalah ”berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi”. Alat-alat pembayaran yang mempunyai ”kekuatan membayar” belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansial yang harus segera dipenuhi, dengan kata lain perusahaan tersebut belum tentu mempunyai ”kemampuan membayar”. ”Kemampuan membayar” baru terdapat pada perusahaan apabila ”kekuatan membayar”-nya demikian besar sehingga dapat memenuhi semua kewajiban finansialnya yang segera dipenuhi.
Pada dasarnya kewajiban keuangan dapat digolongkan menjadi :
1. Kewajiban keuangan yang berhubungan dengan pihak luar perusahaan (kreditur), dinamakan ”likuidasi badan usaha”.
2. Kewajiban keuangan yang berhubungan dengan proses produksi (intern perusahaan), dinamakan ”likuidasi perusahaan”.
Bagi pihak manajemen, rasio likuiditas dapat menunjukkan efisiensi modal kerja yang ada, apakah terlalu besar atau terlalu kecil jumlah modal kerja yang dimiliki. Melalui rasio likuiditas, para pemilik modal dan kreditur jangka panjang setidak-tidaknya ingin mengetahui bagaimana prospek perkembangan perusahaan dalam jangka pendek. Dengan demikian perusahaan dapat memperhatikan apakah perusahaan setiap saat dapat memenuhi pembayaran-pembayaran yang diperlukan untuk kelancaran jalannya perusahaan.

Rasio Likuiditas (Miswanto, Eko Widodo, 1998:83)
1. Current ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dan hutang lancar. Current ratio yang kurang dari 200% adalah tidak baik, tetapi ukuran tersebut bukanlah pedoman mutlak.
Aktiva Lancar
Current Ratio = ––––––––––––– x 100%
Hutang Lancar
2. Cash Ratio, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang jangka pendek dengan kas yang ada dan surat berharga yang dapat segera diuangkan. Tidak ada standar likuiditas untuk cash ratio sehingga penilaiannya tergantung pada kebijakan manajemen.
Kas + Surat Berharga
Cash Ratio = –––––––––––––––––– x 100%
Hutang Lancar
3. Quick ratio, hanya menggunakan beberapa elemen aktiva lancar yaitu kas, piutang, dan surat berharga. Quick ratio yang kurang dari 100% dianggap kurang baik likuiditasnya.
Aktiva Lancar – Sediaan
Quick Ratio = ––––––––––––––––––––– x 100%
Hutang Lancar

2.8 Pengertian Analisis Ratio Solvabilitas
Menurut Drs. S. Munawir, solvabilitas adalah ”menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang” (1995:32). Suatu perusahaan dikatakan ”solvabel” apabila perusahaan tersebut mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutang-hutangnya, sebaliknya apabila jumlah aktiva tidak cukup atau lebih kecil dari jumlah hutangnya, berarti perusahaan tersebut dalam keadaan ”insolvable”.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa solvabilitas merupakan suatu alat untuk menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya, baik itu kewajiban jangka pendek, maupun kewajiban jangka panjang, walaupun sekiranya perusahaan tersebut akan dilikuidasi.

2.8.1 Rasio Solvabilitas (Drs. S. Munawir, 1995:81)
1. Total Debt to Enquity Ratio, rasio ini membandingkan antara seluruh jumlah hutang dengan modal sendiri yang berupa saham. Rasio ini mengukur sejauh mana modal sendiri menjamin seluruh hutang.
Hutang Lancar + Hutang Jangka Panjang
Total Debt to Equity Ratio = –––––––––––––––––––––––––––––––––– x 100%
Modal Sendiri
2. Total Debt to Total Assets Ratio, rasio ini membandingkan total hutang dengan jumlah seluruh aktiva. Semakin rendah rasio ini semakin besar aktiva untuk menjamin seluruh hutang perusahaan.
Total Hutang
Total Debt to Assets Ratio = –––––––––––– x 100%
Total Aktiva

Dengan menganalisa laporan keuangan menggunakan rasio likuiditas dan solvabilitas diperoleh semua jawaban yang berhubungan dengan masalah posisi keuangan dan keadaan finansial perusahaan tersebut. Serta dapat dilihat juga perusahaan tersebut layak dan tidaknya untuk diinvestasikan atau menanamkan modal pada perusahaan tersebut.

2.9 Pengertian Analisis Ratio Rentabilitas
Menurut Bambang Riyanto (1993:28) Rentabilitas ialah ”suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut”. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
Menurut Alex S. Nilisemito (1998:51) Rentabilitas adalah ”kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba/keuntungan dengan modal yang digunakan dan dinyatakan dalam prosentase. Jadi pengertian di atas belum tentu suatu perusahaan lain mempunyai tingkat rentabilitas yang besar pula.

2.9.1 Rasio Rentabilitas
Terdapat berbagai cara untuk mengukur tingkat rentabilitas antara lain :
1. Rate of return on investment
Merupakan perbandingan antara laba bersih dengan total aktiva
Rate of return on investment =
2. Rate of return on equity
Merupakan perbandingan antara laba bersih dan modal sendiri
Rate of return on equity =

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian
Dalam penelitian ini akan digunakan metode penelitian deskriptif, dimana penelitian ini menjelaskan secara sistematis, factual dan akurat data-data keuangan yang ada yang dipergunakan untuk menghitung rasio keuangan dan rasio arus kas, serta menjelaskan kecenderungan peningkatan atau penurunan aruskas bersih yang dihasilkan. Kemudian, penulis akan membandingkan hasil perhitungan rasio-rasio tersebut untuk melihat apakah analisis arus kas dapat digunakan sebagai perangkat penunjang dalam analisis laporan keuangan,sehingga informasi yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan yang lebih baik.

3.2. Definisi Operasional Variabel

1. Rasio likuiditas, menilai kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya.

2. Rasio salvabilitas, menilai perusahaan dibiayai oleh hutang serta kemampuannya untuk melunasi kewajiban tersebut.

3. Rasio profitabilitas, mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam menggunakan sumber daya untuk menghasilkan return dari dana yang ditanamkan baik oleh investor maupun oleh kreditur.

4. Rasio pengembalian kas, menilai kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari kegiatan yang dihasilkan.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, akan digunakan 2 cara atau metode pengunpulan data, yaitu:
1. Penelitian dengan Data Sekunder
Yaitu penelitian terhadap data perusahaan yang sudah trcatat dan sudah dketahui oleh masyarakat dan pengambilan data yang diperlukan dan relevan untuk penelitian.

2. Studi Pustaka (library research)
Yaitu penelitian yang diarahkan untuk pengumpulam landasan teori yang akandigunakan dalam melakukan analisa. Dasar teori ini diperoleh dari literatureliteratur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

3.4. Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Metode Kuantitatif dan Kualitatif
Metode kuantitatif maupun kualitatif digunakan untuk menganalisis data keuangan perusahaan berdasarkan kondisi operasional dimasa lalu.

2. Metode Analisis Komparatif
Metode ini digunakan dalam menganalisis dan membandingkan fluktuasi kondisi keuangan perusahaan setiap periode berdasarkan dukungan analisis laporan arus kas.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Data dan Profil Objek Penelitian
PT Unilever Indonesia Tbk (perusahaan) didirikan pada 5 Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever dengan akta No. 33 yang dibuat oleh Tn.A.H. van Ophuijsen, notaris di Batavia. Akta ini disetujui oleh Gubernur Jenderal van Negerlandsch-Indie dengan surat No. 14 pada tanggal 16 Desember 1933, terdaftar di Raad van Justitie di Batavia dengan No. 302 pada tanggal 22 Desember 1933 dan diumumkan dalam Javasche Courant pada tanggal 9 Januari 1934 Tambahan No. 3.
Dengan akta No. 171 yang dibuat oleh notaris Ny. Kartini Mulyadi tertanggal 22 Juli 1980, nama perusahaan diubah menjadi PT Unilever Indonesia. Dengan akta no. 92 yang dibuat oleh notaris Tn. Mudofir Hadi, S.H. tertanggal 30 Juni 1997, nama perusahaan diubah menjadi PT Unilever Indonesia Tbk. Akta ini disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan keputusan No. C2-1.049HT.01.04TH.98 tertanggal 23 Februari 1998 dan diumumkan di Berita Negara No. 2620 tanggal 15 Mei 1998 Tambahan No. 39.
Perusahaan mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya setelah memperoleh persetujuan dari Ketua Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) No. SI-009/PM/E/1981 pada tanggal 16 November 1981.
Pada Rapat Umum Tahunan perusahaan pada tanggal 24 Juni 2003, para pemegang saham menyepakati pemecahan saham, dengan mengurangi nilai nominal saham dari Rp 100 per saham menjadi Rp 10 per saham. Perubahan ini dibuat di hadapan notaris dengan akta No. 46 yang dibuat oleh notaris Singgih Susilo, S.H. tertanggal 10 Juli 2003 dan disetujui oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan keputusan No. C-17533 HT.01.04-TH.2003.
Perusahaan bergerak dalam bidang produksi sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari susu, es krim, makanan dan minuman dari teh dan produk-produk kosmetik.
Sebagaimana disetujui dalam Rapat Umum Tahunan Perusahaan pada tanggal 13 Juni, 2000, yang dituangkan dalam akta notaris No. 82 yang dibuat oleh notaris Singgih Susilo, S.H. tertanggal 14 Juni 2000, perusahaan juga bertindak sebagai distributor utama dan memberi jasa-jasa penelitian pemasaran. Akta ini disetujui oleh Menteri Hukum dan Perundang-undangan (dahulu Menteri Kehakiman) Republik Indonesia dengan keputusan No. C-18482HT.01.04-TH.2000. Perusahaan memulai operasi komersialnya pada tahun 1933.

Struktur Organisasi

Presiden Komisaris : Jan Zijderveld
Komisaris Independen : Bambang Subianto
Cyrillus Harinowo
Erry Firmansyah
Presiden direktur : Maurits Daniel Rudolf Lalisang
Dir. Keuangan : Franklin Chan Gomez
Dir. HR : Joseph Bataona
Dir. Foods : Hadrianus Setiawan
Dir. Supply Chain : Biswaranjan Sen
Dir. Ice Cream : Surya Dharma Mandala
Dir. Home & Personal Care : Debora Herawati Sadrach
Dir. Customer Development : Okty Damayanti

4.2 Analisis/Pembahasan
Laporan keuangan adalah media yang umum dipakai untuk meneliti kondisi kesehatan perusahaan. Laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba rugi, ikhtisar laba yang ditahan, dan laporan posisi keuangan. Laporan keuangan adalah proses akhira kuntansi. Setiap transaksi yang dapat diukur dengan nilai uang, dicatat dan diolah sedemikian rupa dan laporan akhir pun disajikan dalam nilai uang.

4.2.1 Menghitung Rasio Likuiditas
a. Current Ratio
. perbandingan antara aktiva lancar dan hutang lancar. Current ratio yang kurang dari 200% adalah tidak baik, tetapi ukuran tersebut bukanlah pedoman mutlak. Current Ratio dapat dihitung dengan rumus :

Tabel 4.1 Perhitungan Current Ratio
PT. Unilever Indonesia Tbk (2007-2009)
Dalam jutaan rupiah(kecuali dinyatakan lain)

Tahun Aktiva lancar Utang lancar Current Ratio
2007 2.694.667 2.428.128 1,12%
2008 3.103.295 3.091.111 1,00%
2009 3.598.793 3.454.869 1,04%

Berdasarkan tabel diatas didapatkan pada tahun 2007 didapatkan nilai current ratio sebesar 110,98%. Ini membuktikan bahwa perusahaan masih dapat menutup utang lancarnya dengan aktiva lancar yang dimiliki. Pada tahun 2008 didapatkan nilai rasio lancar sebesar 100,39%, walaupun mengalami penurunan, yg di sebabkan karena bertambah nya aktiva lancar tidak sebanding jumlah kenaikan utang lancar,kenaikan aktiva lancar sebesar 408.634 sedangkan utang lancar sebesar 662.983 yg menyebabkan selisih antara aktiva lancar dan utang lancar menjadi lebih kecil dibandingkan tahun 2007, itu berimbas pada berkurang nya nilai current ratio, perusahaan masih bisa menutup utang lancarnya dengan aktiva lancar yang dimiliki. Kemudian pada tahun 2009, angka tersebut kembali meningkat menjadi 104,17%. Kenaikan di sebabkan karena bertambah nya jumlah aktiva lancar lebih dibandingkan dengan bertambah nya utang lancar.

b. Cash Ratio
menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang jangka pendek dengan kas yang ada dan surat berharga yang dapat segera diuangkan. Tidak ada standar likuiditas untuk cash ratio sehingga penilaiannya tergantung pada kebijakan manajemen. Cas Ratio dapat dihitung dengan rumus yaitu :

Tabel 4.2 Perhitungan Cash Ratio
PT. Unilever Indonesia Tbk (2007-2009)
Dalam jutaan rupiah(kecuali dinyatakan lain)

Tahun Kas + Surat Berharga Utang Lancar Ratio
2007 437.224 2.428.128 18,01%
2008 722.347 3.091.111 23,37%
2009 858.322 3.454.869 24,84%

Pada tahun 2007 cash ratio sebesar 18,01% berarti bahwa setiap rupiah hutang lancar dijamin oleh kas dan surat berharga sebesar Rp. 18,01. Sedangkan tahun 2008 cash ratio menjadi 23,37% berarti setiap rupiah hutang lancar dijamin oleh kas dan surat berharga sebesar Rp. 23,37 (naik 5,36). Serta pada tahun 2009 cash ratio mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya menjadi 24,84, berarti setiap rupiah hutang lancar dapat dijamin oleh kas dan surat berharga sebesar Rp. 24,84 (naik Rp. 1,47).

c. Quick Ratio
hanya menggunakan beberapa elemen aktiva lancar yaitu kas, piutang, dan surat berharga. Quick ratio yang kurang dari 100% dianggap kurang baik likuiditasnya.Quick Ratio dapat dihitung dengan rumus yaitu :

Tabel 4.3 Perhitungan Quick ratio
PT. Unilever Indonesia Tbk (2007-2009)
Dalam jutaan rupiah (kecuali dinyatakan lain)

Tahun Aktiva lancar Persediaan Total aktiva Ratio
2007 2.694.667 857.463 5.333.406 34,45%
2008 3.103.295 1.284.659 6.504.736 27,96%
2009 3.598.793 1.340.036 7.484.990 30,18%

Pada tahun 2007 – 2009 tergolong kurang baik dalam hal kemampuan untuk membayar hutang yang segera jatuh tempo dengan aktiva yang segera dapat diuangkan. Walaupun hasil analisis dari periode 2007 dan 2008 menunjukkan penurunan dari 0,3445 dan 0,2796, di sebabkan oleh bertambah nya jumlah aktiva yang cukup besar tidak sebanding dengan aktiva lancar yg di kurangin persediaan walaupun aktiva lancar dan persediaan mengalami peningkatan. tetapi untuk tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi 0,3018, di sebabkan oleh nilai aktiva lancar tanpa persediaan lebih besar di bandingkan tahun sebelum nya. tetapi hasil tersebut masih di bawah 1. Dari hal di atas menunjukkan bahwa PT. UNILEVER INDONESIA masih belum mampu menjamin hutang lancar yang segera jatuh tempo dengan kas, bank, piutang.

4.2.2 Menghitung rasio solvabilitas

a. Total Debt to Total Asset Ratio
. rasio ini membandingkan total hutang dengan jumlah seluruh aktiva. Semakin rendah rasio ini semakin besar aktiva untuk menjamin seluruh hutang perusahaan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :

Tabel 4.5 Perhitungan total debt to total asset ratio
PT. Unilever Indonesia Tbk (2007-2009)
Dalam jutaan rupiah (kecuali dinyatakan lain)

Tahun Total utang Total aktiva Ratio
2007 2.639.287 5.333.406 49,49%
2008 3.397.915 6.504.736 52,24%
2009 3.776.145 7.484.990 50,45%

Pada tahun 2007 hasil rasio yang didapat adalah 0,4949 ini berarti setiap Rp. 0,4949 hutang lancar dapat dijamin dengan Rp. 1,00 aktiva. Sedangkan pada tahun 2008 mengalami kenaikkan sebesar 0,5224 (turun 0,0275), di sebabkan oleh bertambah nya utang usaha perusahaan kepada pihak ke tiga yang menyebabkan jumlah utang perusahaan meningkat dan peningkatan jumlah utang itu di imbangi dengan jumlah aktiva yang di miliki. ini berarti setiap Rp. 0,5224 hutang lancar dapat dijamin dengan Rp. 1,00 aktiva. Serta pada tahun 2009 hutang lancar mengalami penurunan menjadi 0,5045 (turun 0,0179), hal ini berarti setiap Rp. 0,065 hutang lancar dapat dijamin dengan Rp. 1,00 modal sendiri. Di sebakan oleh peningkatan jumlah utang tidak lebih besar dari jumlah peningkatan total aktiva.

b. Total Debt To Equity Ratio
rasio ini membandingkan antara seluruh jumlah hutang dengan modal sendiri yang berupa saham. Rasio ini mengukur sejauh mana modal sendiri menjamin seluruh hutang.Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :

Tabel 4.6 Perhitungan total debt to equity ratio
PT. Unilever Indonesia Tbk (2007-2009)
Dalam jutaan rupiah (kecuali dinyatakan lain)

Tahun Total utang Modal pemilik Ratio
2007 2.639.287 2.692.141 98,04%
2008 3.397.915 3.100.312 109,60%
2009 3.776.145 3.702.819 101,98%

Pada tahun 2007 hasil rasio ini menunjukkan bahwa memperoleh hasil sebesar 0,9804, hal ini berarti bahwa setiap Rp. 0,9804 total hutang dapat dijamin dengan setiap Rp. 1 total modal sendiri. Sedangkan untuk tahun 2008 hasil rasio dari menunjukkan sebesar 1,0960 (naik 0,1156), ini berarti setiap Rp. 1 total modal sendiri dapat menjamin Rp. 1,0960 total hutang. Di sebabkan oleh kebijakan perusahaan untuk menambahkan modal yang di ikutin dengan peningkatan nilai utang. Selain itu pada tahun 2009 hasil rasio ini pada mengalami penurunan sebesar 1,0198 (turun 0,0762 dari tahun sebelumnya), dengan kata lain bahwa setiap Rp. 1,0198 total hutang dapat dijamin dengan Rp. 1 total modal sendiri. Di sebabkan oleh tinggi nya jumlah modal pemilik yang lebih besar dari modal pemilik.

4.2.3 Menghitung ratio rentabilitas
a. Rate of return on equity
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Laba bersih
Rate of return on equity =
Modal sendiri

Tabel 4.7 Perhitungan Operating income to operating assets
PT. Unilever Indonesia Tbk (2007-2009)
Dalam jutaan rupiah (kecuali dinyatakan lain)

Tahun Laba bersih Modal sendiri Ratio
2007 1.964.652 2.692.141 72,97%
2008 2.407.231 3.100.312 77,64%
2009 3.044.107 3.702.819 82,21%

Dari hasil data di atas, menunjukkan bahwa rasio ini pada tahun 2007 memperoleh hasil sebesar 07297, ini berarti setiap Rp. 0,7297 modal sendiri dapat dipenuhi dengan Rp. 1,00 total modal sendiri. Sedangkan untuk tahun 2008 memperoleh hasil analisis rasio ini sebesar 0,7764 (naik 0,0467) ini berarti setiap Rp. 0,7764 modal sendiri dapat dipenuhi dengan Rp. 1 total modal sendiri. Di sebabkan oleh laba bersih dan modal mengalami kenaikan dan selisih antara kedua nya semakin besar dan membuat rasio semakin besar. Serta, pada tahun 2009 memperoleh hasil analisis rasio ini sebesar 0,8221 (naik 0,451), ini menunjukkan bahwa setiap Rp. 0,8221 modal sendiri dapat dipenuhi dengan Rp. 1,00 total modal sendiri.

b. Rate of Return On Investment

Laba bersih
Rate of Return On Investment =
Total aktiva

Tabel 4.9 Perhitungan Return On Investment
PT. Unilever Indonesia Tbk (2007-2009)
Dalam jutaan rupiah (kecuali dinyatakan lain)

tahun Laba bersih Total aktiva Ratio
2007 1.964.652 12.544.901 15,66%
2008 2.407.231 15.577.811 15,45%
2009 3.044.107 18.246.872 16,68%

Pada tahun 2007, nilai ROROI berada di bawah 100%, karena nilai ROROI dalam kondisi rentabilitas yang kurang baik dengan hasil sebesar 0,1566 atau Rp. 0,1566. Dengan begitu setiap Rp. 1,00 total aktiva dijamin oleh laba bersih Rp. 0,1566. Lalu pada tahun 2008, hasil nilai ROROI berada dalam peningkatan dengan perubahan 0,1545. Kondisi rentabilitas masih kurang baik, karena nilai masih berada dibawah 100%. Dengan begitu setiap Rp. 1,00 total aktiva dijamin oleh laba bersih Rp. 0,1545. Dan terakhir pada tahun 2009, hasil nilai ROROI mengalami penurunan dengan perubahan 0,1668. Dan nilai rentabilitas masih kurang baik. Karena disebabkan nilai masih berada dibawah 100%. Dengan begitu setiap Rp. 1,00 total aktiva dijamin oleh laba bersih Rp. 0,1668.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya dan pembahasan yang telah disajikan, Penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Dari uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa PT.Univeler Indonesia selama tahun 2007 hingga tahun 2009 dalam keadaan illikuid untuk memenuhi kewajibannya tetapi perusahaan tersebut masih mampu membayar utang jangka pendek dengan kas yang ada dan surat berharga yang dapat segera diuangkan .

2. Dari uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa PT.Univeler Indonesia bahwa pada tahun 2007 hingga 2008 PT.Univeler Indonesia dalam keadaan solvable bila pada saat perusahaan itu dilikuidasi. Namun pada tahun 2008 hingga 2009 PT Arwana Citra Mulia dalam keadaan unsolvable, karena modal sendiri tidak mampu menjamin hutang perusahaan.

3. Dari uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa PT.Univeler Indonesia Tbk dalam keadaan rentable, karena adanya keefektifan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.

5.2 Saran

1. Perusahaan harus meningkatkan kinerja agar dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya.

2. Sebaiknya perusahaan meningkatkan kas dan setara kas, dan mengurangi adanya utang.

3. Perusahaan harus meningkatkan penjualan dan mengurangi biaya-biaya agar dapat menghasilkan laba yang optimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s